Salam. Post ini saya rasa sangat sarkastik, mungkin juga terlihat seperti kurang nasionalis, dan sebagainya. Mohon untuk tidak membacanya kalau anda tidak siap membacanya. Harap maklum.

Berdoa dan pengarahan sebelum masuk ke ruang ujian

Berdoa dan pengarahan sebelum masuk ke ruang ujian

Setelah 4 bulan yang lalu melewati Sijil Pelajaran Malaysia (UNAS Malaysia, pen), baru sekarang dapat ide untuk menulis tentangnya. Maaf karena mungkin blog ini sudah mbulak, sekian lama tak diisi oleh penulis yang ketandusan ide.

Sijil Pelajaran Malaysia, berlangsung selama 5 minggu. Untuk tahun ini, satu mata pelajaran diujikan dalam waktu sehari. Tidak, anda jangan kuatir. 5 minggu itu tidak berturut-turut ujian kok, karena jumat sabtu minggu libur, dan saya cuma hadir di 11 hari dalam 5 minggu itu, karena mapel yang saya ambil cuma 11.

Yang saya kagumi dari sistem unas di malaysia adalah kejujurannya. Ya, tidak dapat dipungkiri, di Indonesia, kejujuran lagi lagi dalam unas merupakan hal yang sangat langka. Mungkin hanya segelintir sekolah saja yang berani melakukan aksi anti curang.

Sistem UNAS di malaysia sangat ketat. Meja antar pelajar dijarakkan jauh sekali, sekitar satu meter. Semua pelajar satu sekolah disatukan dalam satu aula besar untuk ujian ini, gambarannya seperti di film Harry Potter (lupa series ke berapa). Tepak dilarang masuk, jadi siswa hanya masuk menggenggam alat tulis dan kartu ujian serta tanda pengenal. Selain itu, setiap siswa yang izin ke kamar mandi akan diantar oleh pengawas ujian sampai ke depan toilet, untuk menghindari siswa bertanya kepada orang lain di luar ruangan ujian. Kalau sampai ada yang ketahuan curang, maka sanksinya sudah jelas: tidak lulus semua mata pelajaran.

Suasana ruang ujian

Suasana ruang ujian

Sebelumnya, lupa saya ceritakan di atas, jangan bayangkan SPM hanyalah melingkari lubang A, B, C, D, atau E, seperti UNAS Indonesia. SPM jauh lebih rumit dari itu. Selain ada pilihan ganda 50 soal untuk mata pelajaran IPA, di kertas selanjutnya akan ada 8 soal inti dengan 6 sampai sepuluh pecahan soal. Soal ini beragam jenis, mulai dari konsep dasar, hitung-menghitung, definisi, dan sebagainya. Mungkin soalnya bisa berbentuk “apa arti tekanan”, atau mungkin bisa berbentuk analisa kasus dan pertanyaan konsep seperti “kenapa ketika mengendarai mobil dan hujan, terdapat uap di kaca jendela? Bagaimana solusi untuk menghilangkan uap tersebut dan apa alasannya?”. Jadi dalam hal ini, memang sangat susah untuk mengaplikasikan teknik bonda-bandi ketiban dadi yang selalu kita praktekkan ketika SD dulu. Belum berhenti di soal isian, kertas selanjutnya yaitu kertas tiga merupakan soal esei dan eksperimen. Soal esei biasanya merupakan perbandingan dan soal eksperimen, kami diberi dua buah kasus, kemudian disuruh untuk memilih satu kasus dan membuat eksperimen tentangnya. Total waktu yang dibutuhkan untuk ketiga kertas tersebut kurang lebih adalah 5 jam!

Bagaimana pula dengan sistem peniaian SPM tersebut? Tentunya tidak bisa dipasrahkan sepenuhnya kepada komputer pengecek LJK, karena ada soal isian, esei dan eksperimen yang tentunya jawabannya bisa beragam. Di sini, pemerintah malaysia telah memilih guru-guru pilihan dan terpercaya dari setiap kota untuk menilai SPM tersebut. Tentunya guru yang terpilih merupakan guru senior. Pemerintah akan memberikan kunci yang berisi keyword. Kalau keyword tersebut ada di jawaban siswa, maka siswa akan mendapat nilai. Kurang lebih seperti itu. Dan kalau sang pengoreksi ragu terhadap jawaban siswa, maka bisa didiskusikan bersama guru pengoreksi lainnya, untuk menerima atau menolak jawaban siswa tersebut.

Tapi kan rawan katrol nilai?

Jangan khawatir, karna di kertas jawaban, tidak boleh menulis nama siswa. Yang ditulis hanyalah nomor ujian dan nomor KTP. Selain itu, yang amannya lagi, jawaban dari propinsi A tidak akan dikoreksi oleh guru-guru di propinsi A, tapi akan dioper ke propinsi lain, propinsi T mungkin, atau bisa jadi propinsi G, dan sebagainya. Siswa tidak akan tahu dimana lokasi jawabannya, dikoreksi oleh siapa, begitu pula dengan pengoreksi tidak akan tahu siapa siswa yang sedang dikoreksi ujiannya itu.

Setelah semua jawaban selesai dikoreksi, barulah nilai disetor ke pusat. Di pusat inilah, baru ditentukan, nilai minimal untuk mendapatkan grade A+, A, A-, sampai failed. Kalau di biasanya, 91 baru bisa dapat A+ , mungkin saja waktu SPM ini 70 sudah bisa dapat A+. Mungkin saja 93 baru dapat A+. Mungkin saja, karena yang tahu hanyalah Kementrian pendidikan. Semuanya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Tidak boleh terlalu banyak orang failed, dan tidak boleh terlalu banyak orang mendapat A+.  Barulah akhirnya nilai tersebut dibagikan kepada setiap siswa, dan tentunya tidak berupa nilai angka, tapi berupa nilai huruf. A+, A, A-, B+, B, C+, C, D, E, G (tidak lulus).

Slip SPM saya

Slip SPM saya

Huh, mungkin memang ribet, bahkan saya pun kebingungan bagaimana harus menceritakannya. Yang jelas, kecil sekali kemungkinan terjadi kecurangan, walaupun masih ada juga desas-desus bocoran soal.  Tapi coba bayangkan, dengan adanya bocoran soal, apa yang bisa diperbuat oleh siswa-siswa? Toh nanti soalnya juga esei, toh nanti bikin eksperimen sendiri. Memang tidak banyak yang bisa diperbuat dengan adanya bocoran soal. Dan memang desas-desus bocoran soal itu jarang sekali terbukti benar-benar soal SPM. Itu hanyalah isu, kebanyakannya.

Antri sebelum masuk ruang ujian

Antri sebelum masuk ruang ujian

Huh, memang butuh waktu yang lama. Apalagi kalau diterapkan di Indonesia. Untuk ngoper soal dari jawa timur ke Sulawesi Utara, dari Sulawesi Utara ke Kalimantan Timur, dari Kalimantan Timur ke Papua, dan seterusnya. Belum lagi untuk ngoreksi jawaban murid yang pasti nggak karuan banyak macam jawabannya, terus harus ngerapatin jawaban mana yang bisa diterima dan jawaban mana yang ditolak. Dengan tulisan yang beragam, ada yang rapi kayak ketikan dan adapula yang astaghfirullah kayak cakar ayam.

Huh, memang butuh duit banyak, buat ngoper soal antar pulau pasti duit keluarnya banyak. Buat nggaji guru pengoreksi jawaban yang ribuan mungkin bisa puluhan ribu kalau di Indonesia, buat nyetak soal yang tuebel tebel nggak karuan, buat nyetak lembar jawaban, dan sebagainya. Apalagi di Indonesia yang rawan banget korupsi, memang nanti biayanya akan membengkak.

Tapi demi kualitas pendidikan yang lebih baik, kenapa tidak? Daripada membuang banyak nyawa karena bunuh diri setelah tidak lulus UAN, kenapa tidak kita coba saja sistem seperti ini? Bisa meminimalisir ketidaklulusan siswa, meminimalisir kasus bunuh diri. Daripada mengandalkan jurus bonda-bandi ketiban dadi, sejak SD sampai SMU, kenapa tidak dilatih membuat karangan untuk setiap mata pelajaran bahasa. Dilatih untuk menjawab esei di soal UNAS.

Saya tidak bisa menjamin, sistem ini bisa dijalankan di Indonesia dengan efektif atau tidak. Tapi kalau melihat mental bangsa Indonesia yang mayoritasnya lebih memilih untuk curang yang penting nilainya bagus, lebih memperhatikan target lulus 100% dan rata-rata sekolah yang tinggi daripada memperhatikan kejujuran siswa, lebih baik ngorupsi duit rakyat yang penting diri sendiri kenyang walaupun harus mendhalimi ribuan atau jutaan orang, aah mungkin semua ini akan sia-sia saja.

Cara untuk curang itu ada 1001, kenapa harus nyerah dengan sistem penataan meja dan penjagaan ketika mau ke kamar kecil? Kalau sudah ketahuan curang, kenapa tidak lewat “jalur belakang” saja supaya semuanya aman, tidak ter-blacklist, dan tetap bisa lulus? Ada banyak ladang korupsi, kenapa tidak digarap saja? Kalau bisa curang, kenapa harus susah-susah belajar hanya demi sebuah ujian?

Ya, apapun kebijakan yang diterapkan pemerintah, semuanya akan sia-sia saja. KALAU mental bangsa mayoritas masih seperti ini.

*Lalu, apa gunanya saya menulis panjang lebar di sini? Sia-sia sajakah?
Oh semoga saja tidak, mungkin ini bisa jadi tambahan pengetahuan untuk anda, dan semoga menginspirasi anda.

*Credit to : Muhaimin B13 SMIH and Pakcik Ainullotfi for the pictures.