Laskar Pelangi: The Movie or The Book?

Setelah 3 hari yang lalu aku ditagih temenku, Tya, untuk meng-update tulisan, akhirnya dapet juga ide buat nulis: tentang laskar pelangi.

Jujur, dari awal sejak laskar pelangi terbit, sampe sakarang muncul filmnya di bioskop, bahkan akan muncul juga buku tetralogi laskar pelangi, aku nggak pernah dapet feel-nya, nggak pernah nemuin hal menarik yang bisa ditangkep dari laskar pelangi.

Aku sih punya buku laskar pelangi. Tapi, bener-bener ampuh buat obat tidur. And aku nggak minat banget ama buku laskar pelangi. Pertama, alurnya loncat-loncat, bikin orang (terutama aku) bingung. Kedua, banyak kata-kata baru yang nggak kukenal. Yah, walaupun ada arti kata di halaman belakangnya, tetep aja repot, mau baca buku kok harus sering bolak-balik halaman. So, baru sekitar 25 halaman, kuputuskan untuk nggak melanjutkan membaca. Toh, meski dipaksakan aku nggak bakalan mudeng ama apa yang dimaksud oleh Andrea Hirata… (kecuali kalo aku nggak bisa tidur ato nggak ada bahan bacaan lain).

Saat ini, sudah keluar film laskar pelangi yang baru bisa ditonton di bioskop. Sayangnya aku nggak mau nonton di bioskop, so baru bisa nonton kalo udah keluar vcd-nya. Kata orang-orang, film-nya bagus banget. tapi nggak tahu lagi apa pendapatku nanti setelah menonton, apa bakal seneng ato tetep aja bosen.

Well, minta pendapatnya donk, menurut anda semua, bagus mana, film ato bukunya? And kenapa? Kalo bisa juga jelasin dong, sisi mana yang menarik dari laskar pelangi?

NB: sorry banget buat para penggemar laskar pelangi…

6 thoughts on “Laskar Pelangi: The Movie or The Book?

  1. memang bahasa di laskar pelangi sebenarnya bahasanya angkatan anak kelahiran tahun 70 an. Kalau kamu lahir tahun 90an pasti gak bakal ngerti grup The Doors, ya kan. Juga kesan pada Rhoma Irama yang kamu dapat tentu juga lain dengan waktu Andrea Hirata dulu.
    Laskar Pelangi dibaca tanpa melibatkan perasaan tentu tak menyentuh. Memang bahasanya kadang mellow seperti mellownya suara Andrea (he…he kayaknya…) Soal film, aq juga belum liat. di kotaqu belum ada…

    Like

  2. Saya baru pertama kali lho denger/ baca yang gak suka dengan bukunya Andrea…
    Kalo buat saya bahasanya asyik…
    Seperti kata ember pecah… mungkin karena kita beda generasi…
    Kalo filmnya belum tahu, karena belum nonton.
    Di Lombok gak ada bioskop

    Like

    • terima kasih atas kesudian memberikan komentar🙂
      filmnya kebetulan saya sudah nonton, tentu lebih mudah difahami daripada membaca buku..

      jadi saya lebih memilih film😀

      Like

  3. Bukunya bagus, bahasanya lincah, dan sarat ilmu.
    Kelemahannya: ada bagian yang terlalu bertele-tele, itu aja menurutku.
    Tenang aja, di Sang Pemimpi alurnya lebih singkat dan tulisannya lebih meremaja kok.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s