Sekolah di Malaysia

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera.

Dear readers (boleh dong sekali sekali sok punya banyak pembaca :D), kali ini sesuai judul tulisan di atas, saya pingin membahas perbandingan sekolah di Malaysia dan di Indonesia. Bukan buat asal membandingkan, tapi untuk tambahan wawasan dan pengetahuan, terutama buat kalian yang punya niat untuk melanjutkan sekolah di Malaysia, semoga bisa membantu dan bermanfaat.

Disclaimer: tulisan ini merupakan opini pribadi, dibuat berdasarkan pengalaman pribadi saya yang pernah merasakan sekolah menengah di Indonesia dan Malaysia umumnya, atau SMP Luqman Al Hakim Surabaya – Sekolah Menengah Islam Hidayah (SMIH) Johor Bahru khususnya. Selain itu, saya juga sempat berbincang dengan junior saya yang juga pernah merasakan sekolah menengah di dua negara tersebut tapi terbalik: SMP di Malaysia, SMA di Indonesia. Jadi ada kemungkinan berbeda dengan sekolah-sekolah lain, dan ada juga kemungkinan perbedaan opini.

Kelebihan sekolah di Malaysia / SMIH:

  • SMIH adalah salah satu sekolah swasta cabang MUSLEH (rangkaian sekolah Islam Malaysia, sejenis JSIT) terbaik di Malaysia. SMIH unggul secara imbang di bidang akademik, kokurikulum maupun pendidikan agama (tarbiyyah). Prestasinya banyak dan beragam.
  • Banyak kegiatan kegiatan baru yang menarik, yang tidak ada di Indonesia seperti: Sports day, bulan bahasa, Ihtifal (acara penghargaan tahunan untuk pencapaian murid beserta pentas penampilan dari para siswa), Hari guru, Bulan Al-Quds (kalau tidak salah, lupa) untuk memperingati perjuangan sahabat kita di Palestina, malam Badar di bulan ramadhan, dan lain lain. Setiap kegiatan kegiatan tersebut digarap dengan serius, perancangan yang detail dan tidak main-main.
  • Sistem pendidikan yang lebih mengutamakan pemahaman dibanding hafalan.N(Mengenai ini, insya Allah nanti akan saya buat tulisan tersendiri, karna terlalu panjang untuk dijabarkan di sini).
  • Penjurusan IPA/ IPS sudah dilakukan sejak tahun pertama, jadi bisa langsung mendalami ilmu yang diminati
  • Kejujuran terutama dalam hal ujian, entah itu ujian semester atau ujian nasional di Malaysia sangat diutamakan. Contek-menyontek, atau kecurangan tersistematis bisa dibilang nihil di Malaysia.
  • Lingkup lingkungan yang cukup berpemikiran global. Dari awal masuk SMIH, banyak teman-teman yang bercita-cita untuk melanjutkan kuliah ke negara-negara unggulan dengan beasiswa. Malaysia memang jor-joran dalam berinvestasi menyekolahkan warganya yang unggul ke luar negeri. Bukan hanya cita-cita, bahkan sudah ada bukti nyata dari para senior kami. Sekarang ini, dari sekitar 100 orang angkatan saya, 20an di antaranya sudah tersebar ke berbagai negara untuk melanjutkan kuliah di universitas-universitas terkenal. Ada yang di Inggris, Amerika, Jordania, Mesir, Jepang, China, dan 90% di antaranya merupakan penerima beasiswa dari pemerintah maupun swasta Malaysia. Sebagai catatan, beasiswa tersebut secara garis besar dikhususkan untuk warga Malaysia saja, namun tentu semangat mengglobal tersebut juga merupakan poin plus sekolah di SMIH.
  • Total masa pendidikan SMA hanya dua tahun untuk lulus dan mendapatkan sijil SPM (setara O level). Setahun untuk tingkatan 4, setahun untuk tingkatan 5.
  • Waktu liburan yang relatif lebih banyak daripada sekolah Indonesia. Seminggu pasca UTS, dua minggu pasca UAS 1, dan sebulan setengah pasca UAS 2 (liburan akhir tahun).

Tantangan sekolah di Malaysia:

  • Dibandingkan dengan sekolah-sekolah Indonesia, materi akademik Malaysia kalah. Sebagai gambaran: di awal kedatangan saya, saya cukup kaget (sampai sekarang pun masih ingat) menyaksikan seorang teman yang menggunakan kalkulator untuk menghitung 6 x 2. Bukan karna tidak bisa, namun karna memang kalkulator diizinkan penggunaannya, dan menggunakan kalkulator lebih cepat bukan? Beberapa bab awal juga sudah pernah saya pelajari di Indonesia, terutama pelajaran Matematika dan IPA. Gambaran lainnya, ketika saya SMP di Surabaya sudah beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika atau IPA tingkat Propinsi, seringkali diadakan oleh universitas negeri ternama seperti ITS atau UNAIR. Beberapa kali ikut, namun tidak pernah sekalipun lolos ke babak semifinal. Di Malaysia, saya juga pernah sekali mewakili sekolah mengikuti olimpiade Matematika tingkat Nasional, dimana pemenangnya akan mewakili Malaysia untuk maju ke tingkat Internasional. Hasilnya cukup mengejutkan, saya dapat penghargaan sebagai 40 besar terbaik satu Malaysia. Mengenai perbandingan kurikulum ini, nanti insya Allah akan saya buat tulisan tersendiri karna panjang untuk dibahas. (Sudah ada ide dan poin kasarnya, tinggal menunggu waktu dan mood).
  • Belajar di negara orang, tinggal di asrama dengan peraturan-peraturannya, jauh dari orangtua dan keluarga, tentu saja membutuhkan proses adaptasi yang jauh lebih sulit dari sekolah di Indonesia. Adaptasi bahasa, kebiasaan, budaya, peraturan, pelajaran, dan lainnya. Namun dibalik kesusahan tersebut tentu ada sebuah poin plus untuk masa depan: jadi lebih kuat dan mandiri.
  • OSIS di Malaysia (dinamakan Majelis Perwakilan Pelajar) kurang berkembang, terutama jika dibandingkan dengan Indonesia. MPP kurang lebih hanyalah penerus guru, menjalankan program yang sudah diatur sekolah, mengkomunikasikan ke pelajar pelajar lain. Pemilihan ketua, wakil dan anggotanya pun pada akhirnya ditentukan oleh guru. Memang siswa diberi hak untuk memberikan suara dan memilih sejumlah orang untuk masuk ke MPP, tapi yang menentukan siapa menempati jabatan apa adalah guru. Tentu berbanding terbalik dengan OSIS yang kita semua tau seperti apa mandirinya.
  • Ini yang menurut saya paling penting. Setelah lulus dari Tingkatan 5 dan mendapatkan sijil SPM (sejenis sertifikat UNAS), agak tricky untuk melanjutkan kuliah. Mau lanjut di Malaysia, belum bisa langsung S1 karna ada 1-2 tahun jenjang pre-University. Yang paling umum ada Foundation, Matrikulasi, dan A level. Sayangnya, Foundation dan Matrikulasi hanya dikhususkan untuk warganegara Malaysia. Sedangkan A-Level, bagi saya biayanya agak mahal kalau harus menggunakan dana pribadi. Mau balik ke Indonesia pula, sijil SPM tidak bisa langsung digunakan untuk mendaftar kuliah. Harus disetarakan dulu atau ujian kejar paket C. Karna saya tidak memilih keduanya, jadi saya tidak bisa memberikan info lebih lanjut. Tapi setau saya, lulusan SPM tidak setara dengan lulusan SMA Indonesia. Untuk melanjutkan ke negara lain, harus melihat sistem pendidikan masing-masing negara. Salah satu yang bisa menerima lulusan SPM adalah China🙂 (Oh ya, junior saya yang melanjutkan SMA ke Indonesia, dia tidak mengalami masalah. Hanya perlu menyetarakan di Konjen RI Johor Bahru dan langsung bisa masuk ke SMA di Indonesia. Tapi perlu aware terhadap jadwal tahun ajaran baru yang beda antara Indonesia-Malaysia, ya).

Kurang lebih itu dulu deh, yang masih saya ingat. Kalau ada tambahan atau opini lain, silahkan ditulis di kolom komentar. Thank you for reading😀

10 thoughts on “Sekolah di Malaysia

  1. tantangan poin 1… bagiku, itu bukan hal yg patut dibanggakan dari kurikulum Indonesia yg super dooper blooper hyper lebay selebay-lebaynya… memang, Indonesia langganan juara olimpiade sains tingkat pelajar ini, itu, anu, anu… tapi, coba sebutkan nama-nama negara yg dianggap sbg leader di bidang pengembangan sains dan teknologi, lalu cek dlm daftar juara olimpiade dari tahun ke tahun, adakah negara-negara itu yg langganan jd juaranya??? jawabannya: tidak sama sekali… dlm pengembangan dan penguasaan sains-teknologi, jauh lebih penting yg berprestasi adalah para akademisi: sarjana, master, doktor, profesor lewat publikasi ilmiah internasional, penguasaan hak paten teknologi, dan memenangi award bidang ilmiah semacam Nobel Prize dsb… kalo anak-anak dan siswa yg berpestasi, paling banter pialanya dipajang di sekolah lalu berdebu-debu…

    Liked by 1 person

  2. Assalamu’alaikum, salam kenal🙂
    Saya berniat menyekolahkan anak2 ke Malaysia. Barangkali mbak Izza memberi info, apakah bisa anak saya melanjutkan sekolah (tingkat dasar dan menengah) tanpa ortu bekerja di Malaysia?
    Maksudnya, suami saya bekerja di Jakarta, sehinga nantinya saya yg akan menemaji anak2 di Malaysia.
    Terima kasih sebelumnya.

    Like

    • Waalaykumsalam wr wb, salam kenal juga Ibu. Nah mengenai hal itu saya kurang tahu ya Bu, terutama tentang visa untuk Bu Lina yang tidak bekerja di Malaysia (menganggur kah?) rasanya akan sulit untuk mendapatkan visa. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan langsung mengkonfirmasi ke kedutaan Malaysia saja. Semoga jawaban saya membantu ya🙂

      Like

  3. Assalamu’alaikum. Permisi salam kenal kk. Sya ada rencana stlah lulus smp ini mau melanjutkan skolah di malaysia. Klo boleh saya minta kontak kk, email , fb ato line ? saya ingin bertanya lebih lanjut.

    Like

  4. Assalamu’alaikum. Permisi salam kenal kk. Sya ada rencana stlah lulus smp ini mau melanjutkan skolah di malaysia. Klo boleh saya minta kontak kk, email ato line ? saya ingin bertanya lebih lanjut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s