Menyambut Ramadhan dengan Syukur

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera,

Belakangan ini saya suka mellow kalau ingat akan menghabiskan Ramadhan di China. Gimana caranya puasa di musim panasnya China yang siangnya panjang ini. Panas lah, lama lah, nggak ada keluarga lah, nggak ada bazar sebelum maghrib lah, sahurnya nanti gimana, banyak lah yang diribetin.

Lalu hari ini saya bertukar kabar dengan seorang teman muslim asli China, sesama mahasiswa di kampus yang sama. Tentunya salah satu topik perbincangan kami ya mengenai Ramadhan yang sebentar lagi tiba. Dia bilang Ramadhan nanti mungkin dia cuma bisa sahur biskuit/buah/susu, nggak mungkin masak di asrama. Tahun lalu bangun pagi senyap-senyap pun roommatenya pada terganggu, apalagi mau kelontangan masak di kamar pagi-pagi buta. For your information, satu kamar berukuran minimalis di asrama mahasiswa lokal biasanya berisi 4 orang, tanpa AC, tanpa lift.

Saya langsung merasa jleb banget. Uhuk. Ternyata kekhawatiran saya kemarin itu belum ada apa-apanya dibanding teman saya ini?

Iya, kadang manusia (atau cuma saya?) lupa untuk bersyukur. Di flat saya yang juga isi 4 orang ini, Alhamdulillah cukup luas dan sangat memungkinkan kalaupun mau masak sahur menu lengkap (sebutlah nasi putih+tumis kangkung+ayam goreng+sambal terasi+teh hangat) pagi pagi buta, ada AC yang bisa nyala 24/7 (tapi tanggung sendiri bayar listriknya, ya!), ada housemates yang meskipun nggak seagama tapi pengertian sekali (bahkan mau ikut nemenin sahur), ada lift buat naik turun 6 lantai. Jauh lebih baik dong ya keadaannya dibandingkan si teman tadi. Bersyukur lah!

Bahkan kalau mau mikir lebih jauh lagi, bisa tuh dibandingin sama saudara-saudara kita yang negaranya lagi rusuh, atau jaman dulu para sahabat perang sambil tetap berpuasa.

(Tapi kenapa untuk bersyukur harus mencari pembanding yang lebih buruk kondisinya terlebih dahulu? Bukankah sebaik-baik syukur itu adalah syukur tanpa syarat?)

Panas ya panas, lama ya lama, konon mau menyaut panggilan “wahai orang orang beriman” di Al-Baqarah : 183, mau dibilang beriman lah kok diberi sedikit ujian aja sudah mengeluh dan meletot. Padahal kalau ikhlas bisa jadi pahala lebih, kalau positive thinking bisa dimanfaatkan untuk berdakwah. Lagipula kemarin kemarin kan sudah dikasih Rajab dan Sya’ban untuk latihan ya. Hihi. Bismillah yaa.

Marhaban ya Ramadhan! Selamat menyambut bulan Ramadhan untuk teman-teman yang merayakan, sudah siapkan hati kah untuk menyambut bulan suci yang beberapa hari lagi akan datang ini?

Note: Tulisan ini pernah ditampilkan di wechat PPI Tiongkok untuk program Artikel Ramadhan bertema Ramadhan di Negeri Tirai Bambu dan di koran Lensa Fokus edisi 13.

2 thoughts on “Menyambut Ramadhan dengan Syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s