Memori tentang Membaca

image

Sejak kecil saya sudah dibiasakan membaca, mulai dari ummi (ibu) yang mengajarkan saya membaca dari abjad sampai kata-kata simple sejak bayi, sampai akhirnya bisa lancar membaca sendiri, dan saya sangat bahagia sekali ketika bisa membaca sendiri.

Memori masa kecil tentang membaca banyak yang menyenangkan dan lucu,

Ada memori saya dan adik-adik yang berebut membaca majalah bobo atau mentari,

Ada memori saya diajak abi ke warnet (jaman itu internet masih langka) sekedar untuk copy paste cerpen dari website bobo untuk kemudian dibaca offline di komputer rumah,

Ada memori saya menanti koran yang diantar mas loper setiap pagi jam 6, lalu berebut dulu-duluan membaca bersama Ummi, Abi, dan adik-adik. Saat itu Abi Ummi berlangganan tiga koran sekaligus: Jawa Pos, Kompas dan Bisnis Indonesia (maaf sebut merk), dan koran favorit anak-anak adalah Jawa Pos karna lebih ringan dibaca, dan karena ada rubrik Deteksinya. Kadang karna tidak sabar menunggu, satu koran dibaca bebarengan. Saya baca bagian kiri, Abi/Ummi baca bagian kanan, kurang lebih begitu. Kocak, bukan? Tapi asik😀

Ada memori ke perpustakaan daerah bareng Ummi dan adik-adik, membaca sejak pagi sampai sore, aktif meminjam buku.

Ada memori lengket dengan buku sejak pagi sampai malam karna keasikan dan tidak mau melepaskan novel Harry Potter dari genggaman, sampai dipanggil Ummi berkali-kali untuk melakukan kewajiban-kewajiban yang terbengkalai (yang ini tidak untuk ditiru, ya).

Ummi pernah bilang, “Membaca apapun itu bagus, pasti akan dapat ilmu baru. Walaupun bacaan-bacaan yang kurang baik pun sebenarnya pasti ada ilmu yang bisa dipetik”, begitu kira-kira.

Bersekolah di Malaysia dan China serta mempelajari bahasanya, membuat bahan bacaan saya bertambah lagi, karena saya jadi bisa membaca buku berbahasa Melayu yang sebelumnya bikin pening kepala itu, lebih terlatih membaca buku bahasa Inggris, dan mulai bisa membaca buku berbahasa Mandarin walaupun butuh waktu berabad-abad untuk menamatkannya *oke ini lebay*.

Tapi rasanya sekarang kemampuan membaca saya sudah menurun drastis. Sudah jarang sekali membaca tulisan bahasa Indonesia, dan rupanya belajar bahasa Malaysia kadang membuat otak saya sedikit konslet dan berpikir lebih lama untuk memahami kata: kata ini maksudnya yang mana? yang bahasa Indonesia atau yang bahasa Melayu? Membaca tulisan berbahasa Mandarin pula pastinya masih dengan speed yang sangat siput karena masih newbie dan perlu keahlian super untuk bisa membaca dengan cepat.

Well, sebenarnya inti dari postingan ini adalah, saya rindu membaca buku bagus bahasa Indonesia. Dan tentunya buku dalam versi cetak, karna buku elektronik melelahkan mata. Jadi sekalian ngode gitu deh, barangkali ada yang mau kirimin saya buku, boleh banget lho yaaa😀

List buku yang lagi diinginkan banget:
1. Hujan Matahari, Kurniawan Gunadi
2. Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya
3. Rindu, Tere Liye
4. Tuhan Maha Romantis, Azhar Nurun Ala
5. Cinta Adalah Perlawanan, Azhar Nurun Ala
6. Rumah Tangga, Fahd Pahdepie
7. Twin Path, Adiar Ersti Mardiswi
8. Teman Imaji, Mutia Prawitasari
9. Melihat Api Bekerja, M. Aan Mansyur
10. Rantau 1 Muara, Ahmad Fuadi

Selamat membaca buku !

Ps. Kamu suka baca buku apa? Kalau ada buku yang recommended, monggo dishare ya hihi.

Pss. Saya bukan simpatisan Surya Paloh, itu buku hibah dari senior dan saya baca sekedar untuk menambah wawasan (tapi sampai sekarang belum kelar-kelar hehe)

Thank you for reading🙂

4 thoughts on “Memori tentang Membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s