Diet Plastik dan Sebuah Komitmen

Beberapa minggu belakangan, aku mendapat cerita dari seorang kawan. Kawanku bilang, demi melakukan sesuatu untuk bumi kesayangan, dia rela berhenti menggunakan plastik.

Selain menjauhkan diri dari kantong plastik, si Kakak cantik nan charming juga sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik di tempat lain. Sebut saja snack snack di supermarket, mie goreng instan khas Indonesia yang pasti dirindukan oleh perantau di luar negeri, shampoo sabun dan pasta gigi komersil yang packagingnya pakai plastik, dan banyak lagi perjuangannya.

Kalau ditanya komentarku dalam satu kata: salut.

Dedikasinya. Komitmennya. Kok bisa sih?

Bahkan kata si Kakak alias Nona No Plastic, dia sampai bikin ramuan pasta gigi sendiri. Begitu juga dengan hubungan romantisnya dengan Indomie, putus sudah. Digantikan dengan mie telur masakan sendiri. Aku yakin sih masih banyak lagi perjuangan dan pengorbanannya, yang belum sempat kukorek lebih dalam. Maklum, “ketemuan” dan ngobrol bareng aja jarang-jarang.

Tapi kebayang dong ya perjuangannya…. 

Kalau menurut Nona No Plastic, dia  melakukan semua itu sih demi Bumi.

Ya, kadang memang atas nama komitmen, kita rela banyak berkorban untuk sesuatu, atau seseorang *ehm*. Seseorang yang berkomitmen itu selalu terlihat mengagumkan ya? Entah berkomitmen pada agama atau paham yang dia anut, organisasi yang diikuti, pada keluarga yang ia sayangi, atau… pada skripsi yang sedang ia tulis. *krik krik kenapa jadi bahas skripsi uhuk*.

Balik lagi ngomongin diet plastik. Dalam hal penggunaan plastik, komitmenku kepada Bumi sementara ini, masih di tahap membiasakan diri mengatakan “saya nggak usah dikasih kantong plastik ya, terima kasih”. Dan kalimat itu bener-bener jadi sering banget keluar dari mulut, karena setelah dijalani, ternyata orang China ini kok ya lumayan boros plastik. Dimana-mana nawarin plastik, kecuali di supermarket-supermarket yang plastiknya berbayar.

Aku belum sanggup sih buat bener-bener memutus hubungan dengan sang plastik. Mungkin suatu hari nanti, atau mungkin tidak akan pernah bisa? Well, mari kita usahakan yang terbaik ya.

Tapi toh katanya, yang sedikit namun istiqomah itu sudah dihitung baik kan? *ngeles*

P.S: Buat kamu yang penasaran sama Nona No Plastic dan perjalanan diet plastiknya, silahkan ngintip blognya, siapa tau jadi tertarik ikutan.

Disclaimer: ini bukan postingan berbayar🙂

One thought on “Diet Plastik dan Sebuah Komitmen

  1. Cukup susah sepertinya untuk bisa benar-benar terlepas dari yang namanya plastik karena memang hampir sebagian besar semua benda terbuat dari plastik.
    Sama mbak, saya juga masih di tahap nggak meminta kantong plastik ketika belanja di supermarket😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s