“Aku Marah” Bukanlah Sebuah Canda

Assalamualaikum wr wb dan Salam Sejahtera,

Jaman kecil dulu, sering banget liat temen sepantaran (yang sama-sama masih kecil) kalo pas lagi marah gitu lucuk bangets. Pake laporan dulu:

“Aku marah!”

Tapi terus diketawain ama orang-orang dan dijadikan bahan guyonan (becandaan, red), karena, “marah kok bilang-bilang”, gitu kata orang-orang kala itu.

Tapi kemudian aku belajar.

It’s okay untuk mengutarakan kemarahan. Ada kalanya, sangat ok sekali untuk bilang, “aku marah”, dan mengkomunikasikan kemarahan kita dengan cara yang baik.

Dengan catatan: tetap menjaga emosi (ini susah!). Jelaskan penyebab kita marah, dan apa SOLUSI yang harus dipikirkan bersama supaya tidak terulang masalah yang sama di kemudian hari.

Bukan yang marah sambil banting-banting piring apalagi KDRT (ini mah bhay aja lah awal-awal), atau teriak-teriak dan maki-maki, ngeluarin kata-kata yang nyakitin hati, saking sakitnya akan diingat orang sampe ujung hayat.

Bukan juga marah terus dipendam sendiri, tidak disuarakan. Silent treatment is a big NO NO NO. Ya gimana orang bisa tau kan? Ga menyelesaikan masalah, jadi bom waktu, dan lama-lama jadi penyakit pula, pundung sendiri :)))

Aku sendiri jujur masih harus banyak belajar sih. Walau kata banyak orang aku orangnya sabar dan tenang, percayalah semua itu hanya ilusi belaka wkwkwk. Aslinya masih harus belajar banyaaaak banget untuk memanajemen kemarahan.

Kalau kamu, gimana? Marahmu seperti apa? Punya perspektif lain? Bagi dong opininya 😉

 

Thank you for reading!

Cheers,

Izza

Maaf, Mandarinku Tidak Bagus-Bagus Amat

Pada suatu hari, ketika aku sedang mengurus administrasi untuk pembuatan kartu perpustakaan Provinsi Jiangxi, pihak administrasi nanya,

perpus-jiangxi

Perpustakaan Provinsi Jiangxi dari halte bus (yang kufoto asal-asalan karena mengejar sampai flat sebelum maghrib)

“Kamu orang Guangdong (provinsi tempatku belajar Mandarin tahun pertama) yah? Logatnya ada logat-logat Guangdong gitu”

Setelah aku menjawab dan menjelaskan bahwa aku foreigner, langsung deh mereka heboh (as always, haha).

“Dari negara mana? Di sini ngapain? Mukamu kok mirip sama kita-kita, apakah orang Indonesia juga berkulit putih semua? Mandarinmu bagus sekali, sudah belajar berapa lama? Oh berarti sudah mau lulus ya, setelah lulus mau stay di sini atau balik ke Indonesia? Orang asing kuliah di sini mahal ga?” Dan list pertanyannya masih panjang banget tuh wkw.

Sudah sering sekali aku dikira orang lokal. Chinese asli. Sepertinya karena perpaduan antara muka dan bahasaku yang mirip sama orang-orang. Hanya dianggap beda suku saja, karena pakaianku nampak asing bagi suku Han, suku mayoritas di China.

Continue reading