Maaf, Mandarinku Tidak Bagus-Bagus Amat

Pada suatu hari, ketika aku sedang mengurus administrasi untuk pembuatan kartu perpustakaan Provinsi Jiangxi, pihak administrasi nanya,

perpus-jiangxi

Perpustakaan Provinsi Jiangxi dari halte bus (yang kufoto asal-asalan karena mengejar sampai flat sebelum maghrib)

“Kamu orang Guangdong (provinsi tempatku belajar Mandarin tahun pertama) yah? Logatnya ada logat-logat Guangdong gitu”

Setelah aku menjawab dan menjelaskan bahwa aku foreigner, langsung deh mereka heboh (as always, haha).

“Dari negara mana? Di sini ngapain? Mukamu kok mirip sama kita-kita, apakah orang Indonesia juga berkulit putih semua? Mandarinmu bagus sekali, sudah belajar berapa lama? Oh berarti sudah mau lulus ya, setelah lulus mau stay di sini atau balik ke Indonesia? Orang asing kuliah di sini mahal ga?” Dan list pertanyannya masih panjang banget tuh wkw.

Sudah sering sekali aku dikira orang lokal. Chinese asli. Sepertinya karena perpaduan antara muka dan bahasaku yang mirip sama orang-orang. Hanya dianggap beda suku saja, karena pakaianku nampak asing bagi suku Han, suku mayoritas di China.

Sejujurnya aku suka-suka saja sih dianggap orang China, karena itu berarti secara tidak langsung Mandarinku sudah terbukti lumayan lah selevel sama mereka (bahkan katanya lebih bagus daripada Mandarinnya orang lokal yang sudah sepuh-sepuh, yang suka kecampur sama bahasa daerah). Pujian dong ya (walaupun yaaaa sebenarnya Mandarinku mah masih gitu-gitu saja). Apalagi kalau belanja, transaksi duit dkk, bisa lah aku tanpa extra effort langsung dapat harga yang sama dengan pembeli lokal. Karena kalau ketahuan foreigner, biasanya rawan dibego-begoin gitu.

Tapi kadang aku juga ingin menunjukkan jati diriku sebagai “foreigner”. Terutama ketika sedang berhubungan dengan birokrasi, administrasi, dkk. Setelah aku membongkar jati diri dan mereka tahu, biasanya perlakuan mereka berubah. Melunak, lebih sabar, lebih ramah. Seperti di loket pembelian tiket kereta, misalnya. Di beberapa stasiun ada loket khusus untuk foreigner. Bukan untuk menaikkan harganya (itu mah loket tempat-tempat wisata di Indonesia), tapi supaya ditangani langsung oleh petugas yang bisa berbahasa Inggris. Antriannya, pastinya lebih sedikit. Bahkan seringnya tanpa perlu mengantri, karena jarang ada foreigner yang beli tiket.

Satu lagi, kalau isengku kumat, aku juga suka sekali sok-sok foreigner dan ga bisa Mandarin, ketika mendapat telepon dari telemarketer asuransi, iklan, atau sejenisnya. Begitu angkat telepon, aku diam sejenak, memberikan kesempatan untuk mereka ngoceh beberapa puluh detik, lalu kujawab dengan sok innocent,

“Halo, maaf bisa coba diulangi pakai bahasa Inggris? Aku orang asing dan bahasa Mandarinku masih belum begitu fasih.”

Kemudian aku perhatikan saja respon mereka yang macam-macam. Haha.

Kamu juga punya kebiasaan iseng tertentu nggak? Bagi dong ceritanya 😛

Thank you for reading and have a good day ! 😀

 

Cheers,

Izza

 

Advertisements

6 thoughts on “Maaf, Mandarinku Tidak Bagus-Bagus Amat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s