Maaf, Mandarinku Tidak Bagus-Bagus Amat

Pada suatu hari, ketika aku sedang mengurus administrasi untuk pembuatan kartu perpustakaan Provinsi Jiangxi, pihak administrasi nanya,

perpus-jiangxi

Perpustakaan Provinsi Jiangxi dari halte bus (yang kufoto asal-asalan karena mengejar sampai flat sebelum maghrib)

“Kamu orang Guangdong (provinsi tempatku belajar Mandarin tahun pertama) yah? Logatnya ada logat-logat Guangdong gitu”

Setelah aku menjawab dan menjelaskan bahwa aku foreigner, langsung deh mereka heboh (as always, haha).

“Dari negara mana? Di sini ngapain? Mukamu kok mirip sama kita-kita, apakah orang Indonesia juga berkulit putih semua? Mandarinmu bagus sekali, sudah belajar berapa lama? Oh berarti sudah mau lulus ya, setelah lulus mau stay di sini atau balik ke Indonesia? Orang asing kuliah di sini mahal ga?” Dan list pertanyannya masih panjang banget tuh wkw.

Sudah sering sekali aku dikira orang lokal. Chinese asli. Sepertinya karena perpaduan antara muka dan bahasaku yang mirip sama orang-orang. Hanya dianggap beda suku saja, karena pakaianku nampak asing bagi suku Han, suku mayoritas di China.

Continue reading

Advertisements

Shaokao dan Terong Panggang Lembut

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera.

Tararaaa! Aku balik lagi. Haha. Hilang sudah ya semua target 2 tulisan per bulan di blog ini. Enyahlah. Nulis tanpa target, dan frekuensinya sesuai kehendak hati aja yes. Harap maklum.

Cerita dulu sedikit sebelum berbagi resep ya. Partner masak barengku di sini kebetulan tidak makan dan tidak suka terong, sedangkan aku pecinta terong, jadi atas nama toleransi, ketika kita masak bareng kita tidak pernah memasukkan terong ke dalam list menu masakan. Hasilnya, aku jadi kangen makan terong.

Sementara itu, di China ini ada satu hal yang khas dari setiap malamnya: Shaokao. Mungkin kalau di-translate, Shaokao ini kurang lebih sama dengan BBQ, Chinese style pastinya. Setiap malam menjelang, di pinggiran jalan, di depan kampus, di pasar, dan dimanapun, akan ada banyak sekali penjual shaokao yang buka dagangan dadakan. Keluar deh semua varian sate-satean, bakar-bakaran, asap mengepul, wangi semerbak. Beuh. Kalau musim dingin, lewat doang aja udah bikin hangat tuh. Selain ada gerobak dan alat panggang, biasanya juga disediakan tenda temporer gitu yang diisi meja dan kursi untuk pembeli yang ingin makan di tempat. Situasinya kayak begini:

shaokao

Shaokao aka Chinese BBQ

Continue reading

Beasiswa Kuliah di China

Assalamualaikum wr wb dan Salam Sejahtera

Halooo, apa kabar teman-teman? Kali ini ceritanya aku mau bayar utang postingan. Dicicil deh yaa, dikit-dikit. Hoho. Ini kemaren aku ngutang postingan tentang beasiswa kuliah di China. Yuk mari, langsung cekidot aja yaaa. Oh ya, disclaimer dulu nih, informasi di bawah ini berdasarkan pengetahuanku aja ya, bisa jadi kurang lengkap, harap maklum.

China ini lagi membuka diri untuk orang asing, buat bisnis, buat tur, dan pastinya buat kuliah. Makanya, buat kuliah di China sendiri bisa dibilang relatif gampang kok syaratnya. Yah, kecuali kalau mau nembus ke Peking University / Tsinghua University (Top Ten Asia, men!), pastinya butuh usaha lebih. Kemaren ada temen nyobain test masuk S1nya Peking University, syusyaah jendral! Saingannya sama mahasiswa-mahasiswa Korea yang Mandarinnya sudah tahap dewa.

Buat ke kampus lain di China, mayoritas sih nggak pake test susah tahap dewa kok. Bahkan kampusku ini nggak pake test masuk sama sekali, tinggal lampirin dokumen, ijazah dan lain lainnya aja 😀

Nah, masuk ke universitasnya gampang kan, masih ada bonus beasiswa pula. Tapi beasiswa ini pastinya lebih kompetitif yaa.

Di kampusku sendiri ada 4 jenis beasiswa, dan agak sejenis juga kok sama kampus-kampus lain di China. Buat orang Indonesia, biasanya ada beberapa jalur beasiswa, di antaranya: Continue reading

Merasakan Sensasi Naik Kereta Tidur

Masih dalam mode vpn eror, jadi harap sabar ya baca tulisan yang alakadar. Tapi tetep kudu ditulis buru-buru juga, keburu hilang moodnya atau memorinya. Jiah.

Bulan lalu ketika ada freelance job keluar kota, sebenernya saya berniat mau naik kereta duduk saja, toh cuma 6 jam perjalanan. Cincai lah ya. Tapi ternyata kehabisan tiket duduk, ya kalik kan 6 jam disuruh berdiri. Antara terpaksa tapi juga seneng, akhirnya saya beli tiket tidur alias dapet kasur.

Norak sih ya, udah mau 3 tahun di China baru sekarang merasakan kereta tidur. Biasanya kalau nggak beli tiket duduk, saya sekalian beli tiket kereta express aja. Kan sekalian buat mangkas waktu perjalanan.

Tiket tidur ini harganya nyaris dua kali lipat harga tiket duduk. Ada yang lebih mahal lagi sih tapi saya beli yang murah aja lah yaa hehe. Irit dot com.

Suasananya begini nih:
Satu “kamar” tanpa pintu ada 6 kasur. 3 di kanan, 3 di kiri. Kasur atas, tengah, bawah. Tapi sesuai namanya yaitu tiket tidur, jadi kita seakan dipaksa tidur sepanjang perjalanan, karna kepentok atap yaak. Jaraknya rendah sekali.

image Continue reading

Tidak (Se) Susah (Itu) Menemukan Makanan Halal di China

Halooo, Assalamualaikum dan salam sejahtera.

VPN di China belakangan melemah parah, terutama yang di laptop. Jadi sementara update alakadar via handphone deh ya. Maafkan kalau ada typo atau gak sesuai EYD atau agak kacau balau haha. Semoga VPN segera menguat kembali 🙂

Jadi ceritanya bulan lalu ada temen SMA yang ke China – Shanghai buat internship, sambil jalan jalan dong tentunya ya. Hari-hari pertama nyampe Shanghai dia cerita susah banget buat nemuin restoran atau warung halal, padahal udah muter-muter naik taksi, restorannya tetap nggak ketemu.

Padahal sebenernya nggak sesusah itu lho buat cari restoran halal di China. Hihi. Yaa nggak perlu dibandingin sama Indonesia sih yaa, beda mah negara mayoritas muslim sama minoritas muslim. Bahkan orang lokal di sini pada umummya nggak kenal apa itu halal. Jadi kalau nanya “dimana ada restoran halal deket sini?” ke random local people gitu juga hampir ga ada orang yang bisa jawab kali ya.

Jadi gimana dong? Susah dong cari makanan halal?

Di China ini ada kedai halal yang bisa ditemui dimana-mana, hampir di setiap daerah pasti ada kedai halal ini, dalam walking distance (di dalam kampus saya saja ada 6 kedai). Namanya kedai Lanzhou Lamian atau 兰州拉面 (cara baca: lancou lamien). Lanzhou Lamian adalah makanan khas dari daerah Lanzhou, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hampir bisa dipastikan setiap kedai Lanzhou Lamian adalah halal, ada logonya, dan tidak jarang penjualnya berjilbab.

image

Kedai Halal Lanzhou Lamian (warna hijau), di bagian atas signboard ada tulisan Arabnya, apa hayo bacanya? :p

Continue reading

Resep Chinese Food: Tumis Tomat Telur (番茄炒蛋)

Assalamualaikum dan salam sejahtera,

wpid-img1437579130109.png

Tumis tomat telur atau 番茄炒蛋 (fānqié chǎodàn) adalah masakan China yang sangat populer dan mudah ditemui di semua tempat di China, mulai kedai kecil sampai restoran. Saya juga sering sekali memesan menu ini karna rasanya yang segar, sampai suatu hari iseng-iseng pingin coba masak sendiri. Ternyata masaknya cukup simple! *lalu gemes sendiri kemaren beli di luar seporsi harga 10 RMB, padahal kalau masak sendiri harga segitu sudah bisa buat makan serumah (4 orang)*.

Oke, done intronya yaa.

Bahan:

Continue reading

Idul Fitri di Negeri Tirai Bambu

Idul Fitri 1436 H

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera,

Alhamdulillah tahun ini saya dikasih kesempatan untuk merayakan Idul Fitri di Nanchang, kota tempat saya menuntut ilmu. Walaupun bisa dibilang cukup sendu karena jauh dari keluarga dan suasana lebaran ala Indonesia yang meriah, tapi lumayan excited juga karena pertama kali merayakan Idul Fitri dengan suasana berbeda. Nano-nano gitu deh rasanya.

Tanggal 16 Juli saat satu Indonesia sudah satu suara untuk berlebaran hari Jumat, kita di sini masih galau kapan berbuka, menanti pengumuman dari Ahong (sebutan untuk imam masjid di sini). Bahkan masjid agung Nanchang sempat terawihan, sebelum kemudian datang pengumuman bahwa hari Jumat sudah masuk Syawal. Tapi shalat idnya tetap di tanggal 18 Juli karena sudah diagendakan sejak jauh hari, dan sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi Jiangxi dan polisi setempat untuk pengamanan. Di tempat minoritas muslim gini, pastinya tidak bisa seenak jidat untuk merubah jadwal.

Sabtu, 18 Juli 2015, hari itu masjid agung Nanchang cukup meriah. Didukung dengan cuaca yang adem di musim panas, masyarakat muslim Nanchang tumpah ruah memenuhi masjid dan halamannya. Jalan raya di depan masjid pun sempat ditutup untuk kami, bahkan ada beberapa polisi yang membantu menjaga keamanan shalat Idul Fitri hari itu. Yang bikin lebih menarik lagi, di depan masjid ada semacam bazar dengan bermacam jualan. Ada makanan-makanan yang halal dan menggoda, seperti sate kambing khas Xinjiang, ayam panggang, roti arab, snack, dan lainnya. Ada juga perlengkapan ibadah sejenis kopyah, jilbab, sajadah, kompas, dan lain-lain. Akhirnya pencarian kompas mini saya berakhir bahagia di sini. Shalat id pagi itu dimulai pukul 8.40, sesuai rencana tanpa molor sedikitpun. Agak siang ya kalau dibandingkan sama shalat id di Indonesia, padahal di sini subuh jam 4 pagi. Shalatnya sendiri sih kurang lebih sama lah ya seperti shalat id di Indonesia. Dimulai dengan takbiran, lalu ceramah bahasa Mandarin, lalu shalat dua rakaat dengan bacaan imam yang cukup bagus dan merdu.

Continue reading

Kalau Tidak Bisa Jangan Banyak Komentar

Assalamualaikum dan salam sejahtera,

Kembali lagi dalam episode “Peribahasa Mandarin”. Eh kali ini nggak bisa dibilang peribahasa sih karna ini sebenernya bukan peribahasa, cuma sebuah ungkapan yang baru-baru ini populer di China, bahkan sampai masuk ke urban dictionary lho. Bunyinya begini nih:

你行你上,不行别比比

Nǐ xíng nǐ shàng, bùxíng bié bǐbǐ

Artinya kurang lebih: Kalau kamu bisa, coba lakukan sendiri. Kalau tidak bisa jangan banyak komentar.

Definisi versi Urban Dictionary.

Kedengerannya agak kasar dan sarkas gimanaaa gitu ya. Tapi kalo dipikir-pikir ada makna baiknya, lho. Ungkapan itu mengajak kita untuk tidak sembarangan komentar, apalagi meremehkan orang lain. Contohnya, apa ya, hmm.
Continue reading

Menilik Kebijakan Pembatasan Akses Internet di China

Jauh sebelum saya menginjakkan kaki ke China, saya sudah mempunyai kesan awal tentang China yang sangat membekas di hati, bahwa China merupakan negara yang melakukan pengawasan internet yang sangat ketat. Saat itu, berita mengenai pemblokiran media sosial yang mendunia seperti facebook, twitter, blog, termasuk salah satu hal yang merisaukan saya sebelum berangkat ke China. Saya tidak pernah membayangkan hidup tanpa media-media sosial tersebut, bagaimana cara saya untuk mengikuti perkembangan dunia? Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman saya di Indonesia? Bukan hanya saya yang memandang negatif terhadap kebijakan internet China, namun banyak juga teman saya baik di Indonesia maupun di luar negeri yang memandang negatif bahkan mengolok terbatasnya kebebasan berinternet di China.

Setelah beberapa tahun hidup dan tinggal di China, perlahan saya mulai mempunyai pandangan dan kesan baru mengenai kebijakan pemblokiran internet yang diterapkan oleh pemerintah China, dan toh saya masih bisa hidup dengan baik walaupun berbagai akses internet diblokir oleh pemerintah China. Ternyata kebijakan China yang dulu saya anggap menyeramkan itu mempunyai banyak sisi positifnya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Pertama, kebijakan penyaringan internet di China bermanfaat untuk menyaring berita-berita yang membahayakan stabilitas dan keamanan negara. Continue reading

Jiangxi Normal University Color Run 2015

Assalamualaikum dan salam sejahtera,

cdjxqepumae4yak

Kemarin di Jiangxi Normal University (Jxnu) ada Color Run lho! Kekinian sekali yak, nggak mau kalah sama color run di Indonesia, atau negara-negara lain.

Pendaftaran udah dibuka sejak jauh jauh hari, cukup lewat wechat aja lho daftarnya. Simple, gak neko-neko. Jadwal aslinya sih Color Run ini seharusnya diadakan seminggu sebelumnya, yaitu 18 April 2015. Tapi, karna ramalan cuaca bilang tanggal 18 akan hujan, langsung digeser ke tanggal 26 April. Canggih emang antisipasinya!

Hari H, jam 9.00 pagi daftar ulang dibuka, sekalian ambil t-shirt, nomor lari, dan bubuk warna (terbuat dari tepung jagung yang diwarnain macam macam). Lalu kita dikasih waktu untuk makan, istirahat, dan bahkan tidur siang dulu, sampe jam 2 siang. Acara dibuka jam 2 siang, pidato bla bla bla, lalu kita bareng-bareng tebarin bubuk warnanya, baru deh lari 5 km. Larinya cuma muterin kampus aja sih (yang super luas itu), dan yang lari sih cuma yang di depan-depan. Saya dan temen-temen mah cuma jalan santai aja, bahkan sempat motong jalur biar cepet finish hahaha (jangan ditiru yah, kan tujuan diadakan color run biar sehat, bukan cuma asal eksis aja). Sambil lari ini, ada beberapa titik kita juga akan diwarnain lagi. Banyak juga yang foto-foto sambil tiduran di jalan yang sudah warna-warni di titik-titik itu.

Tag line color run kemarin bunyinya Continue reading

印中会奖学金 (Beasiswa ICC)

在读的中国和印尼大学生快看过来,印中会奖学金项目今日启动。即日起到 2015年4月30日,欢迎中国和印尼境内高校在读的中国和印尼大学生踊跃申报。

ICC membuka kesempatan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dan Tiongkok. Mulai hari ini hingga tanggal 30 April 2015, para mahasiswa Indonesia dan Tiongkok dapat mulai mengajukan permohonan untuk mendapatkan beasiswa ICC.

印中会奖学金项目旨在鼓励与嘉奖中国和印尼的优秀在校学生,为中印尼友谊贡献力量。

Program beasiswa ICC bertujuan untuk mendorong dan menghargai para mahasiswa Indonesia dan Tiongkok yang berprestasi, memberikan kontribusi dalam hubungan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok.

奖学金金额

印中会奖学金设一等奖学金、二等奖学金、三等奖学金,共奖励 6 人;奖金总额 5500 元。其中,一等奖 1 名,每人奖 2000 元;二等奖 2 名,每人奖 1000 元,总额 2000 元;三等奖 3 名,每人奖 500 元,总额 1500 元。奖学金获得者同时获得主办单位颁发的获奖证书。

Dana Beasiswa

Beasiswa ICC terbagi dalam tiga tingkatan, di mana sebanyak 6 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi, dengan total dana beasiswa sebesar RMB 5500. Di antaranya: Continue reading

List Website dan Media Sosial yang Diblokir di China

Berikut ini list website dan media sosial yang diblokir di China. Yang mau kuliah, kerja, tinggal, atau sekedar liburan ke China, be prepared ya 😀 Selain list, saya juga kasih alternatif penggantinya yang biasa dipakai orang lokal. List juga akan diperbarui mengikut perkembangan terbaru. Semoga bermanfaat.

  • Google, bisa digantikan oleh baidu atau bing. Dan semua perintilannya: Google map, playstore, dkk.
  • Facebook, digantikan renren atau QQ
  • Twitter, alternatifnya bisa pake Weibo
  • Youtube. Tapi ada youku
  • Gmail (Tapi beberapa orang yang beruntung masih bisa mengaksesnya), bisa pindah ke yahoo atau QQ mail
  • Line (Tapi beberapa orang yang beruntung masih bisa mengaksesnya). Ada wechat untuk chat messenger, dan wechat ini sakti mandraguna banget nget nget!
  • Instagram
  • Soundcloud
  • Foursquare
  • Blogger
  • WordPress sekarang sudah bisa! Hehe
  • Tumblr! Sekarang diblokir huhu
  • Telegram! Gagal kekinian deh, mau main UNO dan famili100 jadi ga nyaman :”

Trus ini kok saya masih bisa update wordpress, bikin postingan baru? Ada rahasianya doong, yang butuh hubungi saya via email yah, nanti saya kasih tau triknya 😛

P/s: Pingin tau kenapa China memblokir banyak situs-situs internasional tersebut? Alasan kenapa china memblokir situs-situs tersebut, saya pernah bikin tulisan tentangnya: China, Kenapa Semua Diblokir?

Tips Bertahan Menghadapi Winter tanpa Penghangat Ruangan

Assalamualaikum, salam sejahtera dan 你好

Tinggal di China, di tempat yang musim dinginnya nanggung (paling dingin cuma -4° Celsius), dan tanpa sistem penghangat ruangan artinya beda cara bertahan hidup dengan mereka yang tinggal di Eropa misalnya: tinggal nyalakan penghangat ruangan, maka beres sudah. Walau terlihat sepele karna “cuma” -4, tapi karna tanpa penghangat, jadi terasa lebih menantang dan lebih dingin dari musim dingin di Eropa atau tempat lainnya. Bahkan di sini, air hangat cuma tersedia untuk shower kamar mandi saja. Sisanya: wastafel, tempat cuci piring, harus rela menguatkan diri menahan dingin.

Hebatnya, manusia memang selalu penuh akal. Tidak ada penghangat ruangan, kami di sini punya cara sendiri untuk bertahan hidup. Ini adalah “senjata-senjata” kami melawan musim dingin tanpa penghangat ruangan:

Sarung Tangan Bulu (¥10)
Sarung Tangan Cuci Piring
Cuci piring pake air es sungguh menyiksa, kalau tak percaya cobalah. Dengan bantuan sarung tangan ini, rasa siksa itu setidaknya bisa berkurang sedikit. Dalamnya bulu lho.

Bantal Tangan (¥30-50)
Bantal tangan
Kadang mau nulis atau ngetik sangat menyiksa karna tanga terasa beku, begitu juga setelah cuci piring atau wudhu. Ini solusi tepat untuk tangan yang nyaris mati rasa: bantal tangan. Di dalamnya ada kantung berisi air yang bisa di charge agar panas.
Continue reading

Indonesian Culture Festival 2014

Berawal dari obrolan ringan dengan seorang kawan baik di pagi hari, terinspirasi lah saya untuk update blog. Walaupun masih mood-mood an dan berusaha mengembalikan kemampuan menulis yang sudah lama tidak diasah. Inilah tulisan yang (lagi-lagi) seadanya…

Foto bersama panitia setelah acara berakhir

Foto bersama panitia setelah acara berakhir

Indonesian Culture Festival 2014 pada hari Minggu 30 November 2014 kemarin akhirnya terlaksana sudah, digelar oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Tiongkok cabang Nanchang (PPIT Nanchang), bertempat di Jiangxi Normal University.

Dihadiri oleh KBRI Beijing, Ketua dan wakil PPI Tiongkok, pelajar dan masyarakat China serta beberapa warga internasional, acara kali ini bisa dibilang cukup sukses.

Walaupun sempat diundur dan berpindah venue akibat hujan dan cuaca yang tidak bersahabat, di akhirnya tetap mendapat sambutan meriah. Terbukti dari keesokan harinya acara kita ditayangkan di berita tv Jiangxi.

Di sinilah wadah untuk kita memperkenalkan budaya Indonesia. Melalui tarian-tarian dan permainan tradisional seperti tari paduppa dari Makassar, tari kuda lumping, tari merak, dan gaba gaba ambon; makanan dan citarasa khas Indonesia semacam nasi kuning dan tumpeng, somay, risoles, tahu isi, bakwan jagung, biji salak, beras kencur dan kunyit asam; serta baju daerah yang difashionshowkan oleh pelajar pelajar asing.

Acara kali ini mungkin memang belum sempurna, tapi memberikan efek positif yang luar biasa. Semoga tahun depan bisa mengadakan acara yang lebih baik lagi. Kabarnya rektor kampus juga memberikan apresiasi positif, bahkan meminta untuk diadakan setiap tahun.

Alhamdulillah ala kulli hal.

*Foto-foto dan cerita detail mungkin akan menyusul. Harus minta dari sie dokumentasi dulu.

China, Kenapa Semua Diblokir?

Note: Ini tulisan yang masih sangat mentah tapi nggak sempat ngedit lebih baik lagi, dan keburu topiknya basi. Maka mohon maaf, dan monggo dinikmati apa adanya.

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera.

Beberapa waktu ini kami para pelajar internasional di China, terutama Indonesia (yang hobi ngeksis), berasa sebel berturut turut ke pemerintah China. Pasalnya, google mendadak diblokir, termasuk turunannya seperti google maps, gmail, translate, dan PlayStore! (Nyawanya Android). Untunglah beberapa minggu kemudian kembali dibuka. Kemudian menyusul line diblokir, padahal line adalah alat komunikasi yang bisa dibilang unggulan di Indonesia. Nggak lama setelah itu, instagram diblokir!

[Cek list website dan media sosial yang diblokir di China untuk informasi lebih lanjut]

Banyak yang mengeluh, kenapa sih semua semua diblokir. Seperti mengurung penduduknya dan membatasi kami dari info internasional. Komunikasi dengan kawan kawan di negara asal jadi terhambat, kesempatan eksis pula makin berkurang. Tahu kan sekarang instagram termasuk aplikasi paling populer di Indonesia? Untuk upload foto dan bisa dilihat oleh follower, untuk kepohin si dia yang pingin kita kepohin, atau untuk obat bosen, sekedar explore dan scroll siapa aja dan apa aja yang kita minati. Bahkan untuk pengetahuan pembaca, dulu saya bisa mantap melanjutkan kuliah ke Jiangxi Normal University ini juga atas bantuan Instagram lho.

Nggak kaget kalo banyak pula yang kayak kebakaran jenggot, dan berburu VPN yang bisa dipake di sini. Mungkin VPN sekarang semacam nyawa untuk gadget kami ya di China ini. Haha.

Semua fenomena itu tadi bikin saya mikir. Kenapa? Apa bagusnya? Continue reading

Seek Knowledge, Even If You Have To Go To China For It

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Ini kabar agak telat sih. Alhamdulillah sekitar dua bulan yang lalu saya memenangkan sebuah kompetisi menulis esei yang diadakan oleh CUCAS, sebuah agen yang membantu pendaftaran murid asing untuk masuk ke universitas di China. Esei berjudul “Seek Knowledge, Even if You Have to Go to China for It” saya ternyata dapat juara satu. Hadiahnya nyampe sebulan setelah pengumuman via pos, iPad mini. (Special thanks buat kakak senior yang sudah berbagi info lomba dan mendorong saya untuk berpartisipasi 🙂 )

Senang? Pastinya. Alhamdulillah. Tapi setelah itu otak jadi buntu, mau nulis apa-apa jadi susah, haha (Entah apa hubungannya sih). Buktinya? Ini postingan jadinya pendek sekali, nggak jelas alurnya pula. Jadi… mari kita copy paste dari sini, esei saya itu.

Seek Knowledge, Even if You Have to Go to China for It

“Seek knowledge, even if you have to go to the China for it”. That is one of Arabic proverbs that I remember strongly until now. Since I was a kid, I have heard this proverb for so many times because I studied in Islamic school since kindergarten until high school. This proverb makes me wonder, what is so special about China? Even since I started my high school study, I already planned to further my study in China. Besides, I also have another strong reason of why going to China.

There is another reality that also interest me. I bought pencil, and it is made in China. I bought drinking bottle, and it is also made in China. I bought shoes and clothes, where they are also made in China. My uncle bought a motorcycle, and surprisingly it is also made in China. “Wow, China is super amazing! Everything comes from China.” That was what I thought, and apparently “Made in China” is everywhere now. Even Islamic dress which is often used by east countries’ people like Saudi Arabia, Egypt, Yemen, or Jordan, are also made in China, whereas in China itself, Islam is the minority. My dad bought some souvenirs after going to Mecca to do Islamic ritual and prayer, and they are also made in China! So, let’s go to China and find out why.

Continue reading

Ngapain Aja Sih di Shaoguan? (Pengalaman Kuliah di China)

Note: Ini tulisan tanggal 2 September 2013 yang baru dipublish sekarang. Tulisan ketika saya pulang summer vacation di Indonesia, sebelum berangkat kembali ke China seminggu kemudian. Tulisan ketika idealisme dan semangat masih tinggi dan membara. Oh, hari ini sudah hari ketiga di tahun 2014 rupanya.

Sebenernya jujur aja minat dan bakat nulis sudah hilang kemana, sudah lebih dari setahun mogok nulis, tapi kali ini tetap memaksakan diri buat nulis, seenggaknya supaya jadi memori biar nggak nguap bareng embun di taman depan rumah, jadi monggo dimaklumi saja kalau hasilnya sungguh tidak indah untuk dibaca.

Kali ini mau cerita banyak (niatnya sih cerita banyak, nggak tau lagi akhirnya jadi beneran banyak atau nggak) tentang pengalaman di China kemarin, di Shaoguan University setahun belajar basic Mandarin demi supaya bisa lanjut S1 di China.

Pusat kota Shaoguan. Photo by: Irene

Pusat kota Shaoguan.
Photo by: Irene

Setelah TK di sebuah swasta milik yayasan PKS, SD NU di kawasan pasar, SMP Pondok Hidayatullah dan SMA milik Ikhwanul Muslimin di Malaysia negara feudal, tercampak di sebuah Negara non Islam dan berbau komunis seperti China itu sungguh sesuatu yang baru dan mengejutkan mental pastinya.

Berdiri sebagai muslimah sendirian di kampus di antara puluhan ribu mahasiswa lainnya, bahkan jadi orang asing di seluruh penjuru kota, sambil membawa idealisme untuk tetap mengizzahkan islam, seenggaknya dari shalat 5 waktu, menutup aurat, menjaga pemakanan halal, menjaga batas hubungan dengan lawan jenis, dan sambil berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan sunnah seperti tadarus Quran, shalat dan puasa sunnah, dan juga berusaha mengemban misi yang insya Allah mulia: berdakwah, seenggaknya membuat orang orang sekitar mengenal Islam, semoga suatu hari nanti bisa mengajak orang masuk Islam, Amin, itu bisa saya katakan dengan gamblang di sini: Continue reading