Maaf, Mandarinku Tidak Bagus-Bagus Amat

Pada suatu hari, ketika aku sedang mengurus administrasi untuk pembuatan kartu perpustakaan Provinsi Jiangxi, pihak administrasi nanya,

perpus-jiangxi

Perpustakaan Provinsi Jiangxi dari halte bus (yang kufoto asal-asalan karena mengejar sampai flat sebelum maghrib)

“Kamu orang Guangdong (provinsi tempatku belajar Mandarin tahun pertama) yah? Logatnya ada logat-logat Guangdong gitu”

Setelah aku menjawab dan menjelaskan bahwa aku foreigner, langsung deh mereka heboh (as always, haha).

“Dari negara mana? Di sini ngapain? Mukamu kok mirip sama kita-kita, apakah orang Indonesia juga berkulit putih semua? Mandarinmu bagus sekali, sudah belajar berapa lama? Oh berarti sudah mau lulus ya, setelah lulus mau stay di sini atau balik ke Indonesia? Orang asing kuliah di sini mahal ga?” Dan list pertanyannya masih panjang banget tuh wkw.

Sudah sering sekali aku dikira orang lokal. Chinese asli. Sepertinya karena perpaduan antara muka dan bahasaku yang mirip sama orang-orang. Hanya dianggap beda suku saja, karena pakaianku nampak asing bagi suku Han, suku mayoritas di China.

Continue reading

Menyambut Ramadhan dengan Syukur

Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera,

Belakangan ini saya suka mellow kalau ingat akan menghabiskan Ramadhan di China. Gimana caranya puasa di musim panasnya China yang siangnya panjang ini. Panas lah, lama lah, nggak ada keluarga lah, nggak ada bazar sebelum maghrib lah, sahurnya nanti gimana, banyak lah yang diribetin.

Lalu hari ini saya bertukar kabar dengan seorang teman muslim asli China, sesama mahasiswa di kampus yang sama. Tentunya salah satu topik perbincangan kami ya mengenai Ramadhan yang sebentar lagi tiba. Dia bilang Ramadhan nanti mungkin dia cuma bisa sahur biskuit/buah/susu, nggak mungkin masak di asrama. Tahun lalu bangun pagi senyap-senyap pun roommatenya pada terganggu, apalagi mau kelontangan masak di kamar pagi-pagi buta. For your information, satu kamar berukuran minimalis di asrama mahasiswa lokal biasanya berisi 4 orang, tanpa AC, tanpa lift.

Saya langsung merasa jleb banget. Uhuk. Ternyata kekhawatiran saya kemarin itu belum ada apa-apanya dibanding teman saya ini? Continue reading

Kabar Gembira Beasiswa ICC dan Ucapan Terima Kasih

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera.

Kabar gembira,
Buah manggis kini ada ekstraknya !
*gak deh* *becanda* *masih jaman gak ya becandaan itu? 😛 *

Beasiswa Indonesia-China Centre (ICC) yang sekitar sebulan yang lalu pernah saya post sudah keluar pengumumannya, dan alhamdulillah hasilnya sungguh membahagiakan:

Pengumuman Beasiswa ICC
Pengumuman Beasiswa ICC

Alhamdulillah Juara I, hihi. Setelah sebelumnya melewati beberapa drama sebelum ngumpulin berkas pendaftaran, Continue reading

Seek Knowledge, Even If You Have To Go To China For It

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Ini kabar agak telat sih. Alhamdulillah sekitar dua bulan yang lalu saya memenangkan sebuah kompetisi menulis esei yang diadakan oleh CUCAS, sebuah agen yang membantu pendaftaran murid asing untuk masuk ke universitas di China. Esei berjudul “Seek Knowledge, Even if You Have to Go to China for It” saya ternyata dapat juara satu. Hadiahnya nyampe sebulan setelah pengumuman via pos, iPad mini. (Special thanks buat kakak senior yang sudah berbagi info lomba dan mendorong saya untuk berpartisipasi 🙂 )

Senang? Pastinya. Alhamdulillah. Tapi setelah itu otak jadi buntu, mau nulis apa-apa jadi susah, haha (Entah apa hubungannya sih). Buktinya? Ini postingan jadinya pendek sekali, nggak jelas alurnya pula. Jadi… mari kita copy paste dari sini, esei saya itu.

Seek Knowledge, Even if You Have to Go to China for It

“Seek knowledge, even if you have to go to the China for it”. That is one of Arabic proverbs that I remember strongly until now. Since I was a kid, I have heard this proverb for so many times because I studied in Islamic school since kindergarten until high school. This proverb makes me wonder, what is so special about China? Even since I started my high school study, I already planned to further my study in China. Besides, I also have another strong reason of why going to China.

There is another reality that also interest me. I bought pencil, and it is made in China. I bought drinking bottle, and it is also made in China. I bought shoes and clothes, where they are also made in China. My uncle bought a motorcycle, and surprisingly it is also made in China. “Wow, China is super amazing! Everything comes from China.” That was what I thought, and apparently “Made in China” is everywhere now. Even Islamic dress which is often used by east countries’ people like Saudi Arabia, Egypt, Yemen, or Jordan, are also made in China, whereas in China itself, Islam is the minority. My dad bought some souvenirs after going to Mecca to do Islamic ritual and prayer, and they are also made in China! So, let’s go to China and find out why.

Continue reading